Kabarwaykanan – Laga playoff Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid di Estadio da Luz berubah menjadi sorotan kontroversial setelah gol pembuka Vinicius Junior di awal babak kedua. Pertandingan yang seharusnya menjadi panggung pertarungan sengit antara dua raksasa Iberia ini, justru diwarnai insiden dugaan pelecehan rasial yang menimpa bintang muda Real Madrid tersebut, memicu penerapan protokol anti-rasisme UEFA. Kurang dari sebulan setelah kekalahan 4-2 Los Blancos dari Eagles di fase liga, kedua tim kembali bertemu dalam leg pertama babak gugur di kandang Benfica yang penuh sesak.
Gol Spektakuler Dibalut Kontroversi

Pada awalnya, pasukan Jose Mourinho tampil menekan, namun skuad Alvaro Arbeloa perlahan mengambil alih kendali permainan di paruh pertama, dengan Kylian Mbappe menyia-nyiakan beberapa peluang emas. Namun, tak lama setelah jeda, Mbappe menjadi kreator bagi Vinicius untuk memecah kebuntuan. Penyerang asal Brasil itu melakukan gerakan memotong dari sisi lapangan sebelum melepaskan tendangan melengkung yang luar biasa ke sudut atas gawang, membuat Anatoliy Trubin tak berdaya.
Vinicius Junior merayakan golnya dengan menari di dekat bendera sudut, sebuah aksi yang tampaknya memprovokasi para pendukung Benfica yang berada di dekatnya. Reaksi dari tribun penonton tidak terhindarkan; objek-objek dilemparkan ke lapangan, dan Vinicius kemudian diganjar kartu kuning oleh wasit tak lama setelah insiden tersebut. Ketegangan mulai terasa di lapangan, namun kejadian yang lebih serius baru akan terungkap.
Dugaan Pelecehan Rasial Memicu Protokol UEFA
Kericuhan kecil antar pemain sempat berlanjut sebelum pertandingan dilanjutkan. Namun, malam itu semakin memburuk ketika Vinicius secara terbuka menuduh seorang pemain lawan melakukan pelecehan rasial. Pemain asal Amerika Selatan itu terlihat berteriak ke arah Gianluca Prestianni dari Benfica, yang kemudian menutupi mulutnya dengan kaus dan tampak mengatakan sesuatu. Vinicius segera berlari menghampiri wasit untuk melaporkan kejadian tersebut.
Wasit asal Prancis, Francois Letexier, dengan cepat mengangkat kedua tangannya membentuk simbol silang dan mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA. Selama jeda ini, Vinicius terlibat dalam percakapan yang penuh emosi dengan Jose Mourinho di pinggir lapangan. Pemain Real Madrid itu kemudian duduk di bangku cadangan sementara kekacauan terus merajalela di antara para pemain, dengan Mbappe dan Nicolas Otamendi juga terlihat saling bertukar kata-kata dengan nada marah.
Reaksi dan Dampak di Lapangan
Setelah beberapa saat, Vinicius akhirnya kembali ke lapangan, memungkinkan wasit untuk melanjutkan pertandingan. Namun, sejak saat itu, setiap kali Vinicius menguasai bola, ia disambut dengan cemoohan keras dari para pendukung Benfica, menciptakan atmosfer yang sangat tidak menyenangkan. Insiden ini tidak hanya mengganggu jalannya pertandingan tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang perilaku suporter dan pemain di kancah sepak bola Eropa.
Jejak Kelam Vinicius dengan Rasisme
Terlepas dari seberapa besar Vinicius mencoba memprovokasi lawan atau penggemar, tidak ada yang bisa membenarkan perlakuan keji yang diduga diterima penyerang itu di Estadio da Luz. Sayangnya, winger Real Madrid ini bukanlah sosok asing dalam menghadapi pelecehan yang menyakitkan selama kariernya yang masih terbilang muda. Insiden-insiden serupa pertama kali mencuat ke publik pada tahun 2023.
Vinicius diduga menjadi sasaran nyanyian rasis dari para pendukung Valencia selama pertandingan La Liga, dan sebuah patung ofensif dirinya juga digantung dari sebuah jembatan di Spanyol, yang kemudian berujung pada penangkapan empat orang. Peristiwa di Estadio da Luz ini kemungkinan besar akan mendominasi pemberitaan selama berhari-hari, padahal seharusnya semua pembicaraan seputar Vinicius berpusat pada gol indahnya yang luar biasa. Insiden ini kembali mengingatkan bahwa masalah rasisme dalam sepak bola masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan.


