Kabarwaykanan – Raksasa Italia, Inter Milan, harus menelan pil pahit setelah tersingkir secara memalukan dari ajang Liga Champions pada Selasa malam. Kekalahan agregat 5-2 dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, di babak 16 besar menjadi pukulan telak bagi tim yang sempat menjadi finalis pada musim 2022-23 dan 2024-25 ini. Ironisnya, salah satu momen paling krusial yang berkontribusi pada kegagalan Inter adalah blunder fatal yang dilakukan oleh bek pinjaman dari Manchester City, Manuel Akanji. Laga leg kedua yang berlangsung di markas kebanggaan mereka, San Siro, seharusnya menjadi panggung kebangkitan, namun justru berakhir dengan mimpi buruk yang tak terduga.
Sebelum pertandingan leg kedua, Inter Milan sudah berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka harus pulang dari Norwegia dengan kekalahan 3-1 di leg pertama, sebuah hasil yang menuntut mereka untuk meraih kemenangan dengan selisih minimal tiga gol di San Siro demi melaju ke babak perempat final. Misi ini bukanlah tugas yang mudah, mengingat Inter belum pernah sekalipun berhasil memenangkan pertandingan fase gugur Liga Champions dengan selisih gol sebesar itu. Tekanan mental dan ekspektasi tinggi dari para penggemar Nerazzurri jelas terasa di udara, namun tim asuhan Christian Chivu harus menghadapi tantangan berat ini dengan kondisi yang tidak ideal.

Kekalahan Mengejutkan di San Siro
Mimpi Inter untuk membalikkan keadaan semakin berat dengan absennya striker bintang mereka, Lautaro Martinez. Penyerang asal Argentina itu mengalami cedera betis saat bermain di lapangan artifisial milik Bodo/Glimt pada leg pertama, yang membuatnya harus menepi di laga krusial ini. Kehilangan Martinez jelas mengurangi daya gedor Inter, memaksa Chivu untuk mengandalkan duet Marcus Thuram dan Francesco Pio Esposito di lini depan. Namun, kedua pemain tersebut gagal memberikan dampak yang signifikan di babak pertama. Begitu pula dengan Federico Dimarco dan Nicolo Barella yang performanya cenderung fluktuatif dan kurang konsisten dalam memberikan ancaman.
Sepanjang 45 menit pertama di San Siro, Bodo/Glimt menunjukkan pertahanan yang solid, berhasil meredam setiap tekanan yang dilancarkan oleh Inter. Tim Norwegia itu tampak nyaman dengan keunggulan agregat mereka dan bermain disiplin untuk menjaga gawang mereka tetap aman. Namun, skenario pertandingan berubah drastis tak lama setelah babak kedua dimulai, dan momen inilah yang akan selalu dikenang sebagai titik balik yang menghancurkan harapan Inter.
Blunder Fatal Akanji Membuka Keran Gol
Momen krusial itu terjadi akibat kesalahan fatal Manuel Akanji. Di bawah tekanan ketat dari dua pemain Bodo/Glimt, bek internasional Swiss tersebut mencoba untuk mengontrol bola dan berbalik ke arah gawangnya sendiri. Namun, niatnya itu berujung petaka. Ole Blomberg, penyerang Bodo/Glimt, berhasil merebut bola dari kakinya dengan cepat dan melesat sendirian menuju gawang Inter. Yann Sommer, penjaga gawang Inter, berhasil melakukan penyelamatan gemilang untuk menepis tendangan Blomberg, namun bola muntah jatuh tepat di kaki Jens Petter Hauge. Tanpa ragu, Hauge melepaskan tendangan voli dingin yang bersarang mulus di gawang Inter, mengubah skor menjadi 1-0 untuk Bodo/Glimt di leg kedua, dan memperlebar agregat menjadi 4-1.
Gol tersebut seolah meruntuhkan mental para pemain Inter. Harapan tipis untuk melakukan comeback fenomenal kini nyaris padam. Namun, penderitaan Inter belum berakhir. Tak lama berselang, Bodo/Glimt kembali menggandakan keunggulan mereka, kali ini melalui aksi brilian dari Petter Hauge yang berubah peran dari pencetak gol menjadi pemberi assist. Hauge melihat pergerakan rekannya, Hakon Evjen, yang berhasil lolos dari kawalan lini belakang Inter. Dengan cerdik, Hauge mengirimkan umpan silang akurat dari sisi kanan. Evjen menerima bola dengan kontrol yang sempurna sebelum melepaskan tendangan voli indah ke sudut bawah gawang, membuat skor menjadi 2-0 untuk Bodo/Glimt di leg kedua, dan agregat menjadi 5-1.
Catatan Buruk Inter di Liga Champions
Alessandro Bastoni sempat memberikan gol hiburan bagi Nerazzurri, namun itu sudah tidak berarti apa-apa. Gol tersebut hanya mengurangi defisit, tidak mengubah fakta bahwa Inter telah kalah telak 5-2 secara agregat. Tim Italia itu tidak mampu memberikan jawaban atas superioritas lawan mereka selama 180 menit pertandingan. Kekalahan memalukan ini menandai tersingkirnya Inter dari Liga Champions pada tahap paling awal sejak musim 2020-21, ketika mereka bahkan gagal melewati fase grup. Dalam delapan musim terakhir, Inter hanya berhasil melaju melewati babak 16 besar sebanyak dua kali, dan kedua kesempatan itu selalu berakhir dengan penampilan mereka di final.
Sementara itu, bagi Bodo/Glimt, kemenangan ini adalah pencapaian bersejarah. Mereka telah membuat sejarah klub hanya dengan mencapai fase liga Liga Champions, dan kini mereka berhak melaju ke babak 16 besar. Tim Norwegia ini berpotensi menghadapi lawan-lawan tangguh di babak selanjutnya, seperti Manchester City atau Sporting Lisbon. Banyak penggemar sepak bola mungkin berharap untuk melihat ulangan final 2022-23 antara Manchester City dan Inter Milan di babak playoff, namun kini, The Citizens justru berpeluang melakukan perjalanan ke Lingkaran Arktik untuk pertandingan babak 16 besar mereka. Undian untuk babak selanjutnya akan dilakukan pada hari Jumat, setelah pertandingan leg kedua hari Rabu selesai.



