Kabarwaykanan – Manchester City berhasil mengamankan satu tempat di final Piala Liga setelah menyingkirkan Newcastle United dengan kemenangan agregat meyakinkan 5-1. Dalam leg kedua semifinal yang berlangsung di kandang sendiri, The Citizens tampil dominan dan meraih kemenangan 3-1 atas The Magpies, mengukuhkan superioritas mereka sepanjang dua pertemuan. Hasil ini memastikan pasukan Pep Guardiola akan berhadapan dengan Arsenal di partai puncak yang akan digelar pada bulan Maret mendatang.
Dominasi Babak Pertama yang Mematikan

Manchester City menunjukkan taringnya sejak peluit awal dibunyikan, praktis mengunci tiket final di paruh pertama pertandingan. Omar Marmoush menjadi sosok sentral dengan mencetak dua gol yang krusial. Gol pertamanya tercipta di menit ke-7, membuka keunggulan bagi City, dan ia kembali menggandakan skor di menit ke-29 dengan cara yang tak biasa namun efektif. Tidak lama berselang, Tijjani Reijnders turut menyumbangkan gol ketiga di menit ke-33, membuat skor menjadi 3-0 di babak pertama. Keunggulan agregat 5-0 ini menempatkan Newcastle dalam posisi yang sangat sulit, nyaris tanpa harapan untuk membalikkan keadaan.
Gol Hiburan dan Kekhawatiran Guardiola
Newcastle United akhirnya mendapatkan sedikit penghiburan di babak kedua. Anthony Elanga berhasil mencetak gol indah di menit ke-63, menyusup di antara dua bek City sebelum melepaskan tembakan melengkung yang bersarang di pojok gawang. Namun, gol tersebut hanya berfungsi sebagai gol konsolasi semata, tidak mampu mengubah jalannya pertandingan secara signifikan.
Meskipun meraih kemenangan meyakinkan, pelatih Manchester City, Pep Guardiola, mungkin sedikit cemas dengan performa timnya di babak kedua. Ada indikasi penurunan intensitas permainan dan kelonggaran di lini pertahanan, mirip dengan saat mereka kehilangan keunggulan 2-0 melawan Tottenham Hotspur di liga akhir pekan sebelumnya. Pertahanan City terlihat lebih mudah ditembus, memberikan beberapa peluang bagi lawan yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih baik oleh Newcastle.
Frustrasi Eddie Howe dan Pelajaran Berharga
Di sisi lain, manajer Newcastle United, Eddie Howe, tentu merasa sangat frustrasi. Timnya gagal menunjukkan ketajaman yang sama seperti City, meskipun menciptakan sejumlah peluang signifikan di kedua babak. Kelalaian defensif The Magpies berulang kali dihukum oleh serangan cepat Citizens. Howe harus menghadapi kenyataan bahwa timnya tidak hanya rapuh di lini belakang, tetapi juga kurang klinis dalam memanfaatkan kesempatan di depan gawang, yang pada akhirnya terbukti sangat mahal dalam pertandingan semifinal ini.
Reijnders Jadi Bintang Lapangan
Tijjani Reijnders dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan berkat penampilan luar biasanya di lini tengah Manchester City. Kontribusinya sangat terasa, terutama di babak pertama yang dominan. Gelandang Belanda ini memainkan peran kunci dalam ketiga gol City, termasuk mencetak gol ketiga tim. Reijnders juga menjadi pemain yang paling banyak menciptakan peluang (empat) dan menyelesaikan dribel terbanyak (dua) dari semua pemain di lapangan. Omar Marmoush juga layak mendapat pujian atas dua golnya yang unik, yang secara efektif mengakhiri perlawanan Newcastle dalam 30 menit pertama.
Statistik Pertandingan
Manchester City mendominasi penguasaan bola dengan 63% berbanding 37% milik Newcastle United. Mereka juga unggul dalam jumlah tembakan (19 berbanding 15) dan tembakan tepat sasaran (9 berbanding 5), menunjukkan efektivitas serangan yang lebih baik.
Langkah Selanjutnya untuk Kedua Tim
Kemenangan ini mengantarkan Manchester City ke final Piala Liga, di mana mereka akan menghadapi rival sengit, Arsenal, pada bulan Maret mendatang. Namun, sebelum itu, fokus City akan beralih ke Liga Primer, dengan pertandingan penting melawan Liverpool pada hari Minggu yang dapat memengaruhi perburuan gelar. Sementara itu, Newcastle United harus segera bangkit dari kekalahan telak ini dan bersiap menghadapi Brentford di liga pada Sabtu malam, dengan harapan bisa memperbaiki performa mereka di kompetisi domestik.



