Kabarwaykanan – Spekulasi mengenai masa depan Harvey Elliott di Aston Villa semakin memanas, dengan Liverpool dilaporkan tidak mungkin melakukan perubahan terhadap masa pinjaman sang gelandang muda. Awalnya, kepindahan Elliott ke Villa pada bursa transfer musim panas lalu disetujui oleh juara Liga Primer tersebut dengan harapan transfer permanen senilai 35 juta poundsterling di akhir musim. Namun, situasi di lapangan tidak berjalan sesuai ekspektasi. Pelatih Aston Villa, Unai Emery, tampaknya belum sepenuhnya yakin dengan kecocokan Elliott dalam sistem permainannya, sehingga pemain berusia 22 tahun itu jarang mendapatkan kesempatan bermain.
Kendala Penampilan dan Regulasi Finansial

Elliott baru tampil dalam tujuh pertandingan sepanjang musim ini, sebuah angka yang jauh dari harapan awal. Keengganan Emery untuk memberinya menit bermain lebih banyak bukan hanya karena pertimbangan taktis semata. Ada faktor finansial yang signifikan yang membatasi pergerakan Aston Villa.
Batasan Jumlah Pertandingan
Aston Villa sangat berhati-hati untuk tidak mendekati ambang batas 10 pertandingan bagi Elliott. Jika sang pemain mencapai jumlah tersebut, klausul dalam perjanjian pinjaman akan aktif, yang mewajibkan klub Midlands Barat itu untuk mengeluarkan biaya finansial yang besar. Dalam kondisi keuangan saat ini, Villa tidak dapat secara realistis menanggung pengeluaran tersebut. Ini berarti, Elliott hanya bisa bermain dua kali lagi di musim 2025-26 jika Villa ingin menghindari kewajiban untuk merekrutnya secara permanen dengan salah satu biaya transfer terbesar dalam sejarah klub.
Dampak Aturan FFP
Keputusan Villa untuk membatasi penampilan Elliott sangat terkait dengan upaya mereka mematuhi regulasi keuangan yang ketat dari Liga Primer dan UEFA, yang dikenal sebagai Financial Fair Play (FFP). Klub-klub harus menyeimbangkan pengeluaran dan pendapatan mereka untuk menghindari sanksi. Menambah beban finansial dengan mengakuisisi Elliott secara permanen saat ini akan menjadi tantangan besar bagi keuangan klub, yang berpotensi mengganggu stabilitas finansial jangka panjang mereka.
Opsi Liverpool dan Aston Villa
Situasi Elliott yang rumit ini menimbulkan pertanyaan tentang opsi yang tersedia bagi Liverpool dan Aston Villa, serta sang pemain itu sendiri. Namun, pilihan yang ada sangat terbatas dan memerlukan kompromi dari kedua belah pihak.
Ketiadaan Klausul Panggil Balik
Menurut laporan yang beredar di media Inggris, Liverpool tidak memiliki opsi untuk memanggil kembali Elliott secara otomatis ke Anfield. Artinya, sang pemain hanya bisa kembali ke Merseyside pada hari terakhir bursa transfer jika ada pemutusan kontrak pinjaman secara mutual. Hal ini menempatkan Liverpool dalam posisi yang kurang menguntungkan, karena mereka tidak dapat secara sepihak mengakhiri masa pinjaman yang tidak berjalan sesuai rencana.
Skenario Pemutusan Kontrak
Di sisi lain, jika Aston Villa yang memutuskan untuk mengakhiri perjanjian pinjaman sebelum penutupan jendela transfer musim dingin, mereka akan diwajibkan membayar denda penalti. Kondisi ini membuat kedua klub berada dalam posisi yang sulit, di mana tidak ada pihak yang ingin menanggung kerugian finansial atau reputasi. Oleh karena itu, resolusi positif terkait situasi bermain Elliott akan sangat bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk mencapai semacam kompromi.
Kebutuhan Negosiasi Ulang
Pada titik ini, baik Liverpool, Aston Villa, maupun Elliott sendiri berpotensi mengalami kerugian besar jika kedua klub tidak segera duduk bersama untuk membahas masa depan sang pemain. Waktu terus berjalan, dan setiap pihak memiliki kepentingan yang harus dilindungi.
Potensi Kerugian Semua Pihak
Elliott memiliki sisa kontrak kurang dari 18 bulan. Jika ia hanya membuat dua penampilan kompetitif lagi hingga Agustus paling cepat, nilai pasarnya akan merosot secara signifikan. Ini jelas merugikan Liverpool yang berinvestasi besar pada bakatnya. Bagi Elliott, kurangnya menit bermain menghambat perkembangannya sebagai pemain. Sementara itu, Aston Villa juga tidak mendapatkan manfaat maksimal dari pemain yang mereka pinjam.
Solusi yang Menguntungkan
Secara teoritis, demi kepentingan terbaik Liverpool, mereka bisa mencoba meningkatkan ambang batas jumlah pertandingan yang diperlukan untuk mengaktifkan kesepakatan permanen, sekaligus menurunkan biaya transfer permanen yang disepakati. Jika Aston Villa bersedia membayar biaya pinjaman tambahan sebagai kompensasi atas perubahan tersebut, maka solusi semacam ini akan menguntungkan semua pihak yang terlibat. Elliott akan mendapatkan lebih banyak waktu bermain, Liverpool dapat menjaga nilai asetnya, dan Aston Villa bisa memanfaatkan talentanya tanpa harus terbebani klausul transfer permanen yang memberatkan saat ini. Negosiasi ulang adalah kunci untuk membuka jalan keluar dari kebuntuan ini.



